Rabu, 27 Juli 2011

DI BALIK ALUNAN SENANDUNG RINDU AYAH Kang Djay Lazuardi,Bisa Download JUga





Rindu Ayah, daku padamu...
Rindu suara, rindu hangatmu...
Rindu Ayah, daku padamu...
Rindu suara, rindu senandungmu....

Pecinta nasyid, tentu sudah tidak asing dengan sebait lirik nasyid di atas. Ya, penggalan reffrain dari nasyid SENANDUNG RINDU AYAH yang dilantunkan oleh Djay Lazuardi. Nasyid ini pernah menduduki peringkat pertama di chart nasyid Radio-radio Islam, seperti MHFM Solo, Seulaweut FM Banda Aceh, HizFM Solo, Anda Klaten, As-Syafiiyah Jakarta dan Nuris FM. Untuk yang terakhir ini malah pernah 2 pekan bertengger di peringkat pertama dan menjadi Jawara di atas Jawara Nuris FM Periode Januari – April 2011. Tapi tak banyak yang tahu sosok di balik nasyid Senandung Rindu Ayah ini, walau sebenarnya beliau bukan orang baru di dunia pernasyidan. Nah, suatu ketika ... Saya sempat berbincang-bincang dengan Djay Lazuardi walau lewat FB. Kurang Lebih seperti Ini :

Saya = Kiki Al Fatih
Djay = Djay Lazuardi

Saya      : Assalamualaikum, Kang ... Apa kabarnya kang  ?
Djay       : Waalaikum salam, Kiki ... Alhamdulillah baik  ...

Saya      : O iya Kang, bisa cerita tentang awal Kang Djay kenal ma nasyid ? Sejak kapan ?
Djay       : Kenal ma nasyid pas kuliah tingkat pertama. Nasyid pertama yang kudengar dan sangat menyentuh kalbu adalah nasyidnya kelompok NADAMURNI berjudul MUNAJAT yang dilantunkan Almarhum Ust. Asri Ibrahim. Awalnya dengarnya aneh tapi sungguh speechless mendengarnya. Abis itu tingkat dua mulai mengenal nasyid lebih dalam. Saat itu Cuma ada 2 tim nasyid yang terkenal karena sudah mengeluarkan album, sama-sama a capella tapi beda corak, satu haroky satu lagi pop banget. Dan saat itu bersama teman-teman sekampus membentuk tim nasyid Najmuddin dan berhasil menelurkan dua album yaitu HARAPAN dan NUSANTARA MENANTI KISAH. Sempat bantuin adik-adik kelas juga sampai bikin album UNTUKMU BUNDA. Dari Jakarta pindah ke Semarang, di UNDIP membentuk tim nasyid LAZUARDI dan tahun 2003 sempat menerbitkan album EPISODE JINGGA, dengan hits-nya PENJARA SUNYI. Itulah sekilas perjalanan saya mengenal nasyid. Awalnya atau basic-nya, Lazuardi adalah tim nasyid a capella. Masing-masing bisa sebagai lead vokal, jadi tinggal pas-pasin sama lagunya genre-nya seperti apa, yang lain mengiringi. Asyik, ada kebersamaan di sana.
Saya      : Ada pengalaman yang berkesan selama bersama Lazuardi ?
Djay       : Banyak. Tapi ada dua hal yang sangat berkesan buat saya, juga buat Lazuardi sendiri. Yang pertama adalah saat perjuangan Lazuardi ke Bandung untuk rekaman album EPISODE JINGGA. Pertama kali belum punya album, di penghujung tahun saat itu, ada yang namanya FESTIVAL DAGO di Bandung, di mana malam itu, di sepanjang jalan Dago, banyak atraksi seni yang digelar. Saya mencatat ada Rif/, GAIA dan lainnya ... Dan Lazuardi menjadi satu-satunya tim nasyid yang nekad saat itu, mengiringi atraksi seni Kang Tisna Sanjaya, tampil di depan bukan komunitas nasyid. Sama sekali umum, secara a capella pula. Sambutannya luar biasa, karena mungkin ‘aneh’ sendiri. Yang kedua adalah pada saat tampil di Istora Senayan. Saat itu ada puluhan ribu orang yang datang karena merupakan milad salah satu partai Islam. Banyak tim-tim nasyid terkenal hadir di sana tumplek bleg. Yang masih kami ingat ada Izzatul Islam, SNADA, Hawari, BROTHERS, IN-Team, Justice Voice. Kayaknya masih ada lagi tapi saya lupa. Apa yang membuat berkesan ? Selain penontonnya yang jumlahnya ribuan, ada satu peristiwa yang sampai saat ini membuat saya jauh lebih hati-hati menaruh barang. Kebetulan Lazuardi diundang untuk tampil dua session. Sesi pertama khusus untuk Akhwat. Yang masih kuingat, ada Helvy Tiasa Rosa duduk paling depan. Itu hari Sabtu sore kalo tidak salah. Habis itu Magrib tiba dan bergegaslah kami ke mushola  yang ada di sana. Nah, saya taruh tas dibelakang saya untuk sholat Maghrib. Tapi begitu salam ... tas itu sudah raib entah kemana. Saya cari-cari tidak ketemu, sampai keluar kalau-kalau ada yang membawanya. Saya sungguh panik luar biasa. Kenapa bisa sepanik itu ? Karena tas yang saya bawa itu tas pinjaman dari teman saya yang ada di Jurang Mangu yang di dalamnya ada name tag dia, ada CD minus one yang akan kami bawakan besok malamnya lagi di sesi kedua, kostum kedua saya yang terdiri jas dan celana warna hijau, celana krem saya, dan paling penting adalah buku yang berisi catatan relasi-relasi saya. Lemas rasanya dan pucat. Sampai ditenangkan Asep Sudirman (vocalist JV saat itu). Ya sudah deh... malam itu saya bergelut dengan perasaan kalut saya sendiri. Sampai akhirnya saya harus menerimanya. Semoga bermanfaat buat yang mengambilnya dan moga insyaf, berhenti jadi pencuri. Itulah hal luar biasa yang mendewasakan saya dan tim. Solusinya apa untuk besoknya malamnya? Lazuardi tetap tampil walau saya sendirian yang beda kostum, untungnya saya kebagian lead vokal, jadi saya ditaruh di posisi tengah. Yang dari Malaysia ada yang tertarik dengan PENJARA SUNYI, dua hari setelah itu, di pagi hari kami ditelpon mereka, bisakah kerja sama ... tapi kami jawab kami sudah terikat dengan yang di Bandung, jadi tidak bisa. Itulah komitmen yang Lazuardi pegang, walau pada akhirnya ada hal pahit yang harus Lazuardi telan, namanya manusia, selama berurusan dengan yang melibatkan bisnis, harus ada hitam di atas putih yang jelas, jangan hanya faktor percaya saja. Sebuah pengalaman untuk menentukan sikap ke depannya.

Saya      : Subhanallah...ternyata banyak kejadian yang bisa dijadikan pelajaran yah... Baik, Kang.  kita bicara soal nasyid SENANDUNG RINDU AYAH ... Gimana awalnya ? Itu yang nyiptain siapa? Kalau tidak salah, itu daur ulang dari nasyid dengan judul yang sama di album EPISODE JINGGA Lazuardi, ya ?
Djay       : Benar sekali, Ki. Lazuardi sudah lama vakum karena kesibukan masing-masing personel. Terakhir Lazuardi tampil pada akhir tahun 2004. Saat itu bareng sama Aji Mohammad Mizra Ferdinand Hakim atau yang lebih dikenal dengan Icha Jikustik. Apalagi semua personel hijrah ke Jakarta, tinggal saya yang masih di Semarang dan terakhir di Tegal. Sungguh suatu masa yang sangat lama. Begitu rindunya saya ingin punya tim nasyid lagi yang solid. Tapi apalah daya. Membentuk dari awal, kendalanya banyak dan saya masih ingat betul bagaimana membentuk tim nasyid Lazuardi di awal-awal. Banyak kendalanya. Jadi saya masih berharap Lazuardi bisa bangkit lagi dan bersama lagi. Nah untuk mengobati kerinduan saya pada nasyid... saya mulai mencari-cari nasyid-nasyid (terutama karya saya) yang saat itu belum optimal pengerjaannya, bisa dioptimalkan saat ini. Saya ingin isi dengan vokal saya sendiri secara solo ( walau saya tidak menafikan adanya backing vocal yang mempermanis lagu saya. Dan saya berterima kasih akan hal itu. Teman-teman di Lazuardi yang luar biasa : Wahyu Agus K dan Ahmad Sanusi ). Akhirnya saya dapat dua nasyid yang saya putuskan untuk saya rilis ulang dengan aransemen yang baru dan sesuai apa yang saya inginkan.  Dua nasyid itu adalah Senandung Rindu Ayah dan Episode Jingga. Untuk Episode Jingga, saya akan cerita lain waktu. Kita fokus ke Senandung Rindu Ayah. Senandung Rindu Ayah merupakan karya kolaborasi  saya dan mbak Nur Adiyati ( dulu merupakan salah satu manajer Lazuardi dan sekarang merupakan istri dari salah satu personel Lazuardi Akh Wahyu Agus K.) Awalnya bukan tentang Ayah tapi Ibu... Melodi dan liriknya separuh dari saya, separuh dari Ukhti Nur Adiyati. Saya coba bawain dengan style saya. Saya tidak setuju kalau tentang Ibu ( kebetulan di album Episode Jingga sudah ada satu lagu bertema Ibu yaitu Bingkisan Untuk Bunda) karena Ayah saya yang sudah tiada, maka biar lebih menghayati, maka diganti jadi Ayah. Dan tema tentang Ayah masih jarang disuarakan dibandingkan tema tentang Ibu.
Saya      : Apa yang melatarbelakangi Senandung Rindu Ayah dirilis ulang dengan aransemen yang baru ? Apa hanya untuk mengobati kerinduan akan nasyid ?
Djay       : Jujur, awal saya rekam ulang nasyid-nasyid yang pernah dibuat, tujuannya utamanya adalah mendokumentasikan karya yang pernah kami buat ( khususnya karya saya ). Saya pingin Lagu saya saya lantunkan sendiri, biar ada kenangan buat anak cucu saya. Tapi setelah dipikir-pikir, daripada didengarkan sendiri, mending di-share ke radio-radio Muslim ( ada juga radio konvensional ). Sapa tahu bisa diterima. Untuk ini saya perlu mengucapkan terima kasih banyak pada Ganjar ( lebih dikenal dengan Alief Indonesia ) yang memberi semangat pada saya saat itu, suatu sore di ANN Jateng.

Soal diaransemen ulang musiknya, memang saya ingin sesuatu yang baru. Lead vokal SRA yang lama juga saya. Bedanya, saat itu nadanya lebih tinggi, jadi akan agak mengalami kesulitan saat dibawakan live di panggung karena range nadanya lebar. Harus dalam kondisi yang benar-benar fit saat membawakan nasyid ini saat itu. Buat yang pernah mendengarkan Senandung Rindu Ayah versi Lazuardi dan membandingkannya dengan versi Djay Lazuardi, pasti bisa membedakan perbedaan rasanya. Ada yang suka sama yang versi lama, ada yang suka versi baru. Ada teman di Najmuddin dulu yang komentar kalau suara di versi baru lebih matang ( ya iyalah...  kan makin tua makin berat suaranya ditambah nadanya diturunkan).

O ya. Musiknya diaransemen oleh Irfan F- One, mixing dan mastering digarap oleh Pak Andri Wijaya. Terima kasih pada beliau-beliau ini. Mereka bisa menangkap apa yang saya inginkan.

Saya       : Rekamannnya gimana kang?
Djay          :  Sebenarnya taking vocal sudah direncanakan Oktober 2010 tapi entah kenapa mundur terus karena saya kena radang tenggorokan yang lama sekali. Berbagai obat sudah saya coba minum, tetap saja sakit bahkan makin menjadi, saya hampir kehilangan suara. Lendir terasa banyak menyumbat tenggorkan dan hidung sampai saya putuskan untuk gurah (sesuatu yang selama ini aku takuti), tapi akhirnya toh tidak jadi gurah tahu-tahu dah sampai bulan Desember 2010. Ada yang mengatakan kalau faktor psikis alias stress lebih dominan juga karena kurangnya istirahat memperparah  keadaan. Akhirnya mendekati hari H saya minum madu dan pakai propolis tiap hari dengan harapan suara akan kembali pulih. Berangkat ke Jakarta awalnya mau naik kereta api, tapi ternyata kereta apinya terlambat sampai waktu yang tidak dapat dipastikan karena relnya kebanjiran. Oya saat itu hujan lebat. Akhirnya saya putuskan ke terminal sampai jam 11 malam. Alhamdulillah masih ada bus yang langsung Depok. Paginya, sampai terminal Depok, saya coba ber-humming untuk me-rilex-kan tenggorokan. Hasilnya? Suaraku tetap nge-bass dan pecah. Allah ... Daku pasrah ... Sebenarnya yang saya siapkan untuk take vokal adalah Episode Jingga yang justru punya tingkat kesulitan lebih tinggi dari Senandung Rindu Ayah. Tapi saat di studio ... sekalian saja lah... Tapi suaraku ? Sekali lagi pasrah ... Karena saya merasa seperti orang yang tidak bisa menyanyi disuruh menyanyi. Tenggorokan rasanya sangat tidak enak, tidak bisa melakukan manuver-manuver nada tinggi. Sangat tersiksa. Abis mahrib tidak bisa take vocal karena sudah sama sekali tak bisa untuk menyanyi dengan baik. Akhirnya tidur saja berharap esok hari akan menjadi lebih baik. Suara pecah itu masih ada, tapi untungnya lagunya sedih jadi anggap saja lagi sedih disuruh nyanyi. Di pas-pasin saja. Alhamdulillah terbantu sama backing vockal yang memberi nuansa tersendiri pada dua nasyid ini. Itulah sepenggal kisah di balik Senandung Rindu Ayah. Bukan perjalanan yang pendek ... Tak selalu menyenangkan juga. Satu hal yang menarik, sehabis rekaman sakit tenggorokan saya malah berangsur sembuh, Ki. Subhanallah...

Saya         :kang biasanya kalo munsyid ada yang menyediakan link download dan ada juga yang tidak,kalo    lagu ini sendiri bagaimana?bisa di download atau tidak?biar sekalian promo gtuuu
Djay          : Bisa, Ki. Khusus lagu ini, silakan di- download. Free. Saya ingin berbagi apa yang saya rasakan lewat nasyid ini. Sampai saat ini saya danai sendiri pembuatannya dan sampai saat ini tak ada penjualan. Kalaupun nanti ada lagu ini di suatu album saya (insyaAllah) itu hanya sebagai pelengkap saja. Satu hal Ki, harusnya kita tak semena-mena mendownload lagu karya orang lain tanpa ada ijin dari yang punya. Karena biar bagaimanapun juga, munsyid bikin nasyid sampai bisa didengar oleh masyarakat itu juga pakai dana. Nah, mustinya kita ikut berpartisipasi membesarkan nasyid dengan membeli produk karya mereka ( kalau memang ada produk yang dijual), agar proses kreatif tetap berlangsung, agar syiar Islam lewat nasyid tetap berjalan dengan stabil.

Saya         : Wah bagus tuw kang,apalagi buat yang pernah dengar,kan jadi pada tau..hehe ... Terima kasih banyak ya  Kang Djay ...
Djay          : Sama-sama, Ki ...

Alhamdulillah, buat Sahabat pecinta nasyid ...  SENANDUNG RINDU AYAH bisa diunduh di alamat ini :
Klik Download Senandung Rindu Ayah



Ini liriknya :

Senandung Rindu Ayah

Teringat indah senandungmu
Tenangkan aku didekapmu
Kidungkan lagu alun merdu
Dengan dzikir tak henti batinmu

Lambaian kisah masa lalu
Tatkala Ayah Bersamaku
Sejukkan luka hati biru
Senandungkan kidung relung kalbu

Rindu Ayah, daku padamu
Rindu suara, rindu hangatmu
Rindu Ayah, daku padamu
Rindu suara, rindu senandungmu

Ya Allah masa-masa itu
Biar tetap bersama langkahku
Susuri nikmat ujian-Mu
Tetap syukur hanya kepada-Mu

Dengan cinta-Mu Allah,  bahagiakan Ayah
Dengan rahmat-Mu Allah,  ampunkan ayahku
Dengan cinta-Mu Allah
Kurelakan ia bersama-Mu

Bersama hembusan angin
Di terik panas mentari
Di tengah gulita malam
Tak henti doakanmu…Ayah...
Tak henti rindukanmu...Ayah...


Penggubah Lagu     : Djay Lazuardi & Nur Adiyati
Vocal                       : Djay Lazuardi
Backing Vocal         : A. Sanusi & Wahyu Agus K
Arransemen Musik : Irfan F-One
Mixing & Mastering : Andri Wijaya

3 komentar:

Ini dia yang kucari...ternyata ada di sini... Makasih ya Mas Kiki ...

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jadwal Sholat